Dari Gula ke Energi Hijau, Potensi Tebu Jawa Timur Jadi Sorotan Anggota DPD RI Lia Istifhama

Sabtu, 4 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Upaya memperkuat kemandirian energi nasional mulai mengarah pada pemanfaatan energi terbarukan berbasis sumber daya lokal. Salah satunya adalah bioetanol dari tebu yang dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi solusi strategis di tengah ketergantungan pada energi fosil.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Lia Istifhama, menegaskan pentingnya transformasi sektor tebu sebagai bagian dari ekosistem energi hijau usai melakukan pertemuan dengan jajaran PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) di Surabaya, Kamis (2/4/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Lia menyoroti perubahan paradigma terhadap komoditas tebu yang selama ini hanya identik dengan produksi gula. Kini, tebu dinilai memiliki nilai tambah melalui pengolahan hasil samping berupa tetes atau molasses yang dapat diubah menjadi bioetanol.

Bioetanol merupakan bahan bakar ramah lingkungan yang berpotensi menekan ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil. Pemanfaatannya dinilai semakin relevan di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat.

Menurut Lia, transformasi ini menjadi peluang besar, terutama bagi daerah dengan basis produksi tebu yang kuat seperti Jawa Timur. Provinsi ini diketahui menyumbang lebih dari 50 persen produksi gula konsumsi nasional.

Dengan posisi strategis tersebut, Jawa Timur dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat energi terbarukan berbasis tebu. Selain didukung oleh sumber daya, infrastruktur industri gula di wilayah ini juga telah terbentuk.

“Ke depan, kita tidak bisa hanya berpikir soal gula. Tebu harus dilihat sebagai komoditas strategis yang juga berkontribusi pada kemandirian energi nasional,” ujar Lia.

Ia menambahkan, jika potensi ini dimaksimalkan, Jawa Timur tidak hanya dikenal sebagai lumbung gula nasional, tetapi juga sebagai pusat energi hijau.

“Kalau potensi ini dimaksimalkan, Jawa Timur tidak hanya menjadi lumbung gula, tetapi juga bisa menjadi pusat energi hijau nasional,” tegasnya.

Lia menekankan bahwa pengembangan bioetanol tidak dapat berjalan secara parsial. Diperlukan integrasi antara sektor pertanian dan energi agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas, terutama oleh petani tebu.

Dengan pendekatan tersebut, petani tidak hanya berperan sebagai produsen bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi energi nasional. Hal ini dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian sekaligus memperkuat ketahanan energi.

Namun, pengembangan bioetanol masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi biaya produksi yang relatif lebih tinggi dibandingkan bahan bakar fosil. Kondisi ini membuat bioetanol belum sepenuhnya kompetitif di pasar energi nasional.

Lia menilai, peran pemerintah menjadi kunci untuk menjawab tantangan tersebut. Dukungan kebijakan berupa insentif, subsidi, dan regulasi dinilai penting untuk mempercepat pengembangan energi hijau berbasis tebu.

“Ini tantangan yang harus dijawab bersama. Negara harus hadir untuk memastikan energi hijau ini bisa kompetitif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pengembangan bioetanol dinilai sejalan dengan kebijakan nasional dalam mendorong pemanfaatan energi domestik. Langkah ini tidak hanya mengurangi ketergantungan impor energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di sektor pertanian.

Pada akhirnya, Lia menegaskan bahwa keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada kolaborasi semua pihak, terutama petani sebagai aktor utama di lapangan.

“Kalau ini berjalan, petani tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi energi nasional,” pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Menaker Yassierli: Indonesia Siap Jadi Mitra Dialog Pekerja ASEAN di Tengah Gejolak Global
Kapolri Tekankan Integritas Personel serta Pelayanan Humanis untuk Perkuat Kepercayaan Publik
Kemnaker Verifikasi Mitra MagangHub hingga 30 Oktober, Ini Jadwal Seleksi Peserta
Kemnaker Buka InaSkills 2026, Bidik Talenta untuk Kompetisi Dunia
Kemnaker Umumkan Pemenang Anugerah Informasi Publik 2026
Kemnaker Perpanjang Pendaftaran Mitra MagangHub hingga 29 Oktober
Menaker Paparkan Regulasi Baru untuk Perkuat Pelindungan Pekerja
Senator Cantik Anggota DPD RI Lia Istifhama Ajak Ibu LDII Lindungi Anak di Ruang Digital

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:18

Menaker Yassierli: Indonesia Siap Jadi Mitra Dialog Pekerja ASEAN di Tengah Gejolak Global

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:02

Kapolri Tekankan Integritas Personel serta Pelayanan Humanis untuk Perkuat Kepercayaan Publik

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:39

Kemnaker Verifikasi Mitra MagangHub hingga 30 Oktober, Ini Jadwal Seleksi Peserta

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:23

Kemnaker Buka InaSkills 2026, Bidik Talenta untuk Kompetisi Dunia

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:08

Kemnaker Umumkan Pemenang Anugerah Informasi Publik 2026

Berita Terbaru