Delegasi 16 Negara Belajar Industri Kayu Berkelanjutan di Banyuwangi, Ini yang Dipelajari

Jumat, 26 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menerima 36 delegasi dari 16 negara peserta Capacity Building for Like-Minded Countries: Sustainable Timber di Pendopo Banyuwangi, Rabu (24/6/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menerima 36 delegasi dari 16 negara peserta Capacity Building for Like-Minded Countries: Sustainable Timber di Pendopo Banyuwangi, Rabu (24/6/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id – Banyuwangi menjadi lokasi pembelajaran pengelolaan kayu berkelanjutan bagi 36 delegasi dari 16 negara dalam program Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs): Sustainable Timber. Selama empat hari, 24–27 Juni 2026, para peserta mempelajari praktik pengelolaan kehutanan, perkebunan, hingga industri kayu yang diterapkan di Indonesia.

Program yang digelar Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bersama Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University itu didanai oleh Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI). Peserta berasal dari kalangan pemerintah, akademisi, diplomat, hingga pemangku kepentingan sektor kehutanan.

Sebanyak 16 negara ambil bagian dalam kegiatan tersebut, yakni Argentina, Brasil, Guatemala, Bolivia, Kolombia, Ekuador, Meksiko, Ghana, Honduras, Republik Dominika, Nigeria, Saint Lucia, Pantai Gading, Papua Nugini, Malaysia, dan Thailand.

Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Erma Rheindrayani, menjelaskan program tersebut merupakan agenda tahunan dengan fokus komoditas strategis yang berbeda setiap tahun. Pada 2024 pembahasannya mengenai kelapa sawit, sedangkan 2025 berfokus pada kopi dan kakao.

“Tahun ini kami mengangkat tema industri kayu berkelanjutan. Peserta datang dari berbagai latar belakang agar pengalaman yang diperoleh dapat diterapkan di negara masing-masing,” ujarnya saat diterima Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Pendopo Banyuwangi, Rabu (24/6/2026).

Kepala CTSS IPB University, Prof. Damayanti Buchori, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kapasitas negara-negara peserta dalam mengelola industri kayu yang legal, berkelanjutan, dan memiliki daya saing global. Selain pembelajaran di Jakarta dan Bogor, peserta juga melakukan kunjungan lapangan di Banyuwangi untuk melihat praktik langsung di sektor kehutanan dan industri kayu.

Salah satu materi utama yang dipelajari ialah penerapan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) sebagai instrumen nasional yang menjamin legalitas, ketertelusuran, dan keberlanjutan produk kayu Indonesia. Menurut Damayanti, sistem tersebut menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat daya saing produk kayu Indonesia di pasar internasional.

“Banyuwangi memberikan ruang yang baik untuk melihat praktik lapangan, teknologi, dan perkembangan sektor timber berkelanjutan di Indonesia,” terangnya.

Antusiasme juga disampaikan peserta dari Argentina, Facundo Gonzalez. Pejabat pada unit lingkungan hidup, perubahan iklim, dan perdagangan di Kementerian Luar Negeri Argentina itu mengaku ingin mempelajari pengalaman Indonesia dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

Hal serupa diungkapkan delegasi Ghana, Ophilious Lambog, dari Timber Industry Development Division Forestry Commission Ghana. Menurutnya, forum tersebut menjadi wadah bertukar pengalaman sekaligus mempelajari praktik terbaik dari berbagai negara.

“Kami juga terkesan dengan kehangatan warga Banyuwangi. Makanannya juga sangat enak,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memaparkan potensi daerah yang ditopang sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, hingga pariwisata. Banyuwangi juga memiliki tiga taman nasional, yakni Alas Purwo, Meru Betiri, dan Baluran, yang menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Ipuk menyebut pembangunan daerah diarahkan agar sektor ekonomi dan konservasi berjalan beriringan melalui pelibatan masyarakat. Menurutnya, selain dikenal sebagai penghasil kopi, kakao, beras organik, dan hasil perikanan, Banyuwangi juga memiliki industri pengolahan kayu yang telah menembus pasar ekspor.

“Semoga lewat forum ini kita bisa saling berbagi praktik terbaik sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas di sektor kehutanan dan industri kayu berkelanjutan,” pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Menaker Yassierli Ungkap 3 Karakter SDM yang Dibutuhkan di Era AI
SMSI Siap Kawal Prabowo, Ini Sikap Organisasi Pers terhadap Pemerintah
Yassierli Targetkan Pendampingan Produktivitas Menjangkau Ratusan Ribu Perusahaan
Kemnaker-IWIP Perkuat SDM Lokal, 80 Persen Peserta Magang Masuk Kawasan Industri
Lia Istifhama Turun Langsung, Donor Darah HUT DPD RI di Jatim Tembus 100 Orang
Kemnaker Fasilitasi 100 Pekerja Musik, Dorong Kompetensi dan Pelindungan Profesi
AI Ubah Dunia Jurnalistik, Wamenaker Tekankan Kompetensi dan Perlindungan Insan Pers
Menaker Yassierli: Indonesia Siap Jadi Mitra Dialog Pekerja ASEAN di Tengah Gejolak Global

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 10:47

Menaker Yassierli Ungkap 3 Karakter SDM yang Dibutuhkan di Era AI

Rabu, 4 November 2026 - 18:30

SMSI Siap Kawal Prabowo, Ini Sikap Organisasi Pers terhadap Pemerintah

Selasa, 3 November 2026 - 19:42

Yassierli Targetkan Pendampingan Produktivitas Menjangkau Ratusan Ribu Perusahaan

Selasa, 3 November 2026 - 07:46

Kemnaker-IWIP Perkuat SDM Lokal, 80 Persen Peserta Magang Masuk Kawasan Industri

Selasa, 3 November 2026 - 06:46

Lia Istifhama Turun Langsung, Donor Darah HUT DPD RI di Jatim Tembus 100 Orang

Berita Terbaru