JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Di tengah dinamika geopolitik global dan situasi politik domestik yang masih berproses, perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat rekonsiliasi sosial di Indonesia. Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menegaskan bahwa momen Lebaran tidak sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga ruang strategis untuk mempererat persatuan bangsa.
Menurut Lia, Idul Fitri merupakan titik kembali pada kesucian setelah menjalani ibadah Ramadan, sekaligus kesempatan untuk memperbaiki relasi sosial yang mungkin sempat renggang. Nilai tersebut dinilai relevan di tengah meningkatnya polarisasi di ruang publik.
Ia menjelaskan, tradisi saling memaafkan yang menjadi ciri khas Idul Fitri harus dimaknai secara substansial. Bukan hanya simbolik, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan spiritual, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membersihkan hati, menghapus dendam, dan membuka ruang rekonsiliasi sosial yang tulus,” ujar Lia, Jumat (20/3).
Lia menilai, nilai memaafkan merupakan ajaran fundamental dalam Islam yang memiliki dampak luas bagi kehidupan sosial. Dalam konteks kebangsaan, sikap saling memaafkan dinilai mampu meredam konflik serta memperkuat kohesi sosial di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga persaudaraan di tengah perbedaan pandangan dan kepentingan. Menurutnya, semangat Idul Fitri dapat menjadi fondasi untuk menciptakan kehidupan sosial yang lebih inklusif dan harmonis.
“Bangsa Indonesia yang majemuk sangat membutuhkan energi moral seperti ini. Semangat saling memaafkan bisa menjadi perekat di tengah perbedaan,” katanya.
Lebih lanjut, Lia mengingatkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Idul Fitri memiliki implikasi luas, tidak hanya dalam lingkup personal, tetapi juga dalam ranah sosial dan politik. Jika diterapkan secara konsisten, hal tersebut dapat menciptakan stabilitas dan kedamaian yang berkelanjutan.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum refleksi bersama. Tidak hanya dalam keluarga, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Idul Fitri adalah risalah moral bagi bangsa. Jika nilai maaf dipraktikkan secara tulus, maka kehidupan sosial dan politik kita akan lebih sehat, inklusif, dan damai,” tegasnya.
Lia menutup dengan menekankan pentingnya menjadikan Idul Fitri sebagai gerakan moral kolektif. Menurutnya, jika dimaknai secara mendalam, momentum ini dapat memperkuat persatuan nasional di tengah berbagai tantangan zaman.
“Jika dimaknai secara mendalam, Idul Fitri menjadi gerakan moral untuk memperbaiki hubungan sosial dan memperkuat persatuan bangsa,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar