BANDUNG, RadarBangsa.co.id – Di tengah memanasnya konflik global yang memicu korban sipil, krisis pangan, dan tekanan ekonomi dunia, Khofifah Indar Parawansa bersama puluhan ribu Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menyerukan langkah tegas kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB): perang harus segera dihentikan.
Seruan itu disampaikan dalam peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU di Masjid Al Jabbar, Bandung, Sabtu (18/4/2026). Momentum ini tak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga panggung moral untuk menyuarakan kepentingan kemanusiaan global.
“Surat yang dibacakan ini adalah seruan kita kepada dunia, kepada PBB agar berkomitmen menghentikan perang serta mewujudkan perdamaian,” tegas Khofifah.
Deklarasi tersebut memuat sembilan tuntutan penting, mulai dari penghentian konflik bersenjata, penguatan diplomasi damai, perlindungan warga sipil, hingga jaminan akses bantuan kemanusiaan seperti makanan, air bersih, dan obat-obatan.
Muslimat NU juga menyoroti pentingnya perlindungan tenaga medis, fasilitas kesehatan, lembaga pendidikan, serta keselamatan jurnalis di wilayah perang. Mereka meminta hukum internasional ditegakkan tanpa tebang pilih.
Bagi publik Indonesia, konflik global bukan isu yang jauh. Gejolak perang dapat berdampak pada naiknya harga bahan pokok, terganggunya rantai pasok, hingga ketidakpastian ekonomi yang dirasakan masyarakat sehari-hari.
Karena itu, tekanan moral dari organisasi masyarakat dinilai penting agar dunia internasional bergerak lebih cepat menghentikan kekerasan dan membuka jalan damai.
Khofifah menegaskan, Muslimat NU juga ingin menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam diplomasi dan penyelesaian konflik. Keterlibatan perempuan dinilai penting karena mereka kerap berada di garis depan pemulihan keluarga dan komunitas pascaperang.
Sebagai tindak lanjut, surat deklarasi akan dikirimkan secara kolektif ke PBB bersama jejaring organisasi perempuan lainnya.
Tak hanya bicara isu global, Khofifah juga menekankan penguatan ekonomi anggota Muslimat NU melalui kolaborasi dengan Bank Syariah Indonesia (BSI), seperti program haji, umrah, dan layanan pembiayaan emas.
“Kehadiran BSI diharapkan menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian ekonomi ibu-ibu Muslimat NU,” ujarnya.
Di akhir acara, Khofifah menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Muslimat NU yang terus mendukung kiprah perempuan dalam organisasi, masyarakat, dan bangsa.
“Semoga seluruh energi yang kita dedikasikan menjadi manfaat bagi bangsa dan kemanusiaan,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar