Gubernur Jawa Timur Khofifah Pimpin Misi Dagang Jatim di Jeddah, Potensi Transaksi Tembus Rp6,71 Triliun

Jumat, 25 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur di Jeddah, Arab Saudi, Kamis (24/9). (Dok. Ho/RadarBangsa.co.id)

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur di Jeddah, Arab Saudi, Kamis (24/9). (Dok. Ho/RadarBangsa.co.id)

JEDDAH, RadarBangsa.co.id – Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur di Jeddah, Arab Saudi, mencatat potensi transaksi mencapai Rp6.716.785.201.275 atau sekitar Rp6,71 triliun.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin langsung kegiatan yang berlangsung di Jeddah, Kamis (24/9). Forum tersebut mempertemukan pelaku usaha Jawa Timur dengan pelaku usaha dan calon mitra dari Arab Saudi.

Selain membuka akses pasar bagi produk unggulan Jawa Timur, pertemuan tersebut turut membahas industri halal serta peluang pemenuhan kebutuhan pendukung penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.

Komoditas yang ditransaksikan cukup beragam, mulai briket dan arang kayu, suku cadang serta aksesori kendaraan, lembaran kaca, kertas, baterai dan aki, produk plastik, sabun dan preparat pembersih, bahan kimia organik, refined, bleached and deodorized palm oil (RBD palm oil), produk fesyen, mesin dan peralatan industri, hingga produk pangan.

Produk pangan yang dibawa antara lain pakan ternak, susu dan produk olahannya, kopi, teh, jamu, rempah-rempah, kerupuk, sambal, olahan daging dan ikan, rendang, dendeng, bumbu pecel dan gado-gado, tuna kaleng, serta alpukat.

Menurut Khofifah, besarnya potensi transaksi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang kerja sama antara pelaku usaha Jawa Timur dan Arab Saudi.

“Dari proses kurasi, business matching secara daring yang dilakukan berkali-kali, hingga one-on-one meeting, nilai potensi transaksi yang tercatat mencapai Rp6,7 triliun,” kata Khofifah.

Ia berharap komitmen bisnis yang telah dibangun dapat ditindaklanjuti dengan memperhatikan dinamika regulasi di kedua negara.

“Mudah-mudahan apa yang sudah menjadi komitmen bersama dapat kita tindak lanjuti dengan tetap memperhatikan dinamika regulasi di kedua negara. Dengan kerja keras dan semangat untuk terus menguatkan perdagangan serta hubungan ekonomi kedua negara, insyaallah seluruh komitmen transaksi yang telah ditandatangani dapat direalisasikan,” lanjutnya.

Di sisi lain, Jawa Timur menawarkan diri sebagai salah satu basis pengembangan rantai pasok produk dan logistik pendukung penyelenggaraan haji dan umrah bagi pasar Arab Saudi.

Posisi tersebut ditopang kapasitas Jawa Timur sebagai salah satu pusat industri, perdagangan, dan logistik, sekaligus daerah dengan ekosistem serta infrastruktur halal yang terus berkembang.

Jawa Timur tercatat memiliki 13 kawasan industri, dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), satu kawasan industri halal, 37 pelabuhan, tujuh bandara, serta 12 ruas jalan tol.

Pelabuhan Tanjung Perak juga melayani 24 dari 41 rute tol laut nasional. Dari Jawa Timur, hampir 80 persen kebutuhan logistik untuk 19 provinsi di Indonesia Timur disuplai.

“Dengan konektivitas tersebut, Jawa Timur tidak hanya memiliki kapasitas produksi, tetapi juga kemampuan distribusi. Ini yang kami tawarkan sebagai bagian dari rantai pasok regional, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pasar Arab Saudi,” katanya.

Salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang pengembangan ialah fesyen berbasis wastra dan bordir. Jawa Timur memiliki sejumlah sentra bordir dengan produk yang dinilai berpotensi memasuki pasar Arab Saudi dan kawasan Timur Tengah.

“Wastra dan bordir Jawa Timur sangat berkualitas dan memiliki potensi yang luar biasa. Mudah-mudahan kita memperoleh kesempatan untuk memasuki pasar Arab Saudi dan Timur Tengah lebih luas lagi, terutama untuk produk busana berbasis bordir,” tutur Khofifah.

Jawa Timur juga membawa pemasok logistik yang pada musim haji tahun ini telah mendapatkan kesempatan berpartisipasi dalam pemenuhan kebutuhan.

“Kami juga membawa pemasok logistik yang pada musim haji tahun ini telah mendapatkan kesempatan. Mudah-mudahan kemitraan, kerja sama, dan penguatan pasokan logistik dari Jawa Timur dapat terus ditingkatkan,” katanya.

Penguatan hubungan ekonomi tersebut juga ditopang ekosistem industri halal Jawa Timur. Provinsi ini memiliki Halal Industrial Park Sidoarjo (HIPS) serta pengembangan kawasan industri halal yang diarahkan untuk membangun ekosistem industri halal dari hulu hingga hilir.

Jawa Timur juga memiliki 15 Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) di luar LPH LPPOM, LPH Sucofindo, dan LPH Surveyor Indonesia yang memiliki kantor cabang di Surabaya. Ekosistem tersebut diperkuat 85 Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) dan 16.424 Pendamping Proses Produk Halal (PPH).

Infrastruktur pendukung lainnya mencakup laboratorium halal, 196 Rumah Potong Hewan (RPH) halal, serta sekitar 348.010 penyelia halal.

“Ekosistem halal ini penting karena yang kita tawarkan bukan sekadar produk. Kita ingin membangun rantai nilai yang didukung kawasan industri, proses produksi, sertifikasi, sumber daya manusia, hingga distribusi,” jelasnya.

Menurut Khofifah, pengembangan ekosistem halal tersebut dapat menjadi pintu masuk kerja sama yang lebih luas dengan Arab Saudi, terutama pada sektor pangan, produk olahan, jasa, logistik, pariwisata, serta kebutuhan pendukung perjalanan dan penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.

“Penguatan industri halal di Jawa Timur, insyaallah, akan mendukung rantai pasok logistik pada musim haji. Ke depan, peluang ini juga dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan musim umrah, termasuk pada bulan Ramadan dan periode lainnya,” tutur Khofifah.

Berdasarkan data BPS Jawa Timur Agustus 2026 yang disampaikan dalam bahan, perekonomian Jawa Timur memberikan kontribusi sebesar 25,40 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa dan 14,34 persen terhadap perekonomian nasional.

Pada Triwulan II 2026, PDRB Jawa Timur atas dasar harga berlaku mencapai Rp930 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp538,59 triliun.

Basis tenaga kerja Jawa Timur juga mencakup sekitar 3,58 juta pekerja di sektor industri, 4,56 juta di sektor perdagangan, dan 7,77 juta di sektor pertanian.

“Basis industri dan pertanian ini memberikan ruang yang besar untuk membangun rantai pasok produk dari Jawa Timur. Apalagi Jawa Timur juga menjadi simpul distribusi menuju kawasan Indonesia Timur,” kata Khofifah.

Hubungan perdagangan Jawa Timur dan Arab Saudi juga menunjukkan tren positif. Pada periode Januari–Juni 2026, nilai ekspor Jawa Timur ke Arab Saudi mencapai US$74,68 juta, sedangkan impor tercatat US$24,28 juta. Dengan demikian, Jawa Timur mencatat surplus perdagangan sebesar US$50,40 juta.

Komoditas ekspor Jawa Timur ke Arab Saudi antara lain olahan ikan, kayu dan barang dari kayu, kopi, teh dan rempah-rempah, bahan kimia organik, serta kertas dan karton.

Sementara komoditas impor dari Arab Saudi meliputi plastik dan barang dari plastik, bahan kimia organik, berbagai produk kimia, buah-buahan, serta filamen buatan.

“Angka perdagangan ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Jawa Timur dan Arab Saudi sudah memiliki fondasi. Sekarang kita ingin memperluas dan memperdalamnya, dari perdagangan menjadi investasi dan kemitraan rantai pasok,” katanya.

Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur di Arab Saudi diarahkan untuk mempertemukan pelaku usaha Jawa Timur dengan calon pembeli dari Arab Saudi sekaligus menawarkan berbagai proyek investasi Jawa Timur kepada calon investor.

Dalam kurun 2022–2026, Misi Dagang Luar Negeri Jawa Timur telah mencatat total transaksi Rp33,17 triliun melalui 122 transaksi. Khusus dengan Arab Saudi, tercatat tiga transaksi senilai Rp8,12 miliar pada periode tersebut.

Sebanyak 41 pelaku usaha telah difasilitasi dalam kegiatan Misi Dagang Luar Negeri Jawa Timur selama 2022–2026 dengan melibatkan berbagai organisasi usaha, antara lain Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), serta Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI).

Dalam kegiatan di Jeddah tersebut, sekitar 50 perusahaan dan pelaku usaha Arab Saudi hadir. Mereka berasal dari berbagai sektor, termasuk perdagangan, pangan, produk halal, farmasi, kosmetik, parfum, ritel, investasi, dan sektor pendukung lainnya.

“Jawa Timur ingin hadir bukan hanya sebagai daerah penghasil, tetapi juga sebagai mitra strategis. Kita siap mempertemukan kekuatan industri, ekosistem halal, konektivitas logistik, dan pelaku usaha Jawa Timur dengan kebutuhan pasar Arab Saudi,” pungkas Khofifah.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Menaker Yassierli: Indonesia Siap Jadi Mitra Dialog Pekerja ASEAN di Tengah Gejolak Global
Kapolri Tekankan Integritas Personel serta Pelayanan Humanis untuk Perkuat Kepercayaan Publik
Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak
PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan
PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani
DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi
Kemnaker Verifikasi Mitra MagangHub hingga 30 Oktober, Ini Jadwal Seleksi Peserta
Gus Iqdam di Pasuruan: Serukan Ilmu, Akhlak, dan Sedekah

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:18

Menaker Yassierli: Indonesia Siap Jadi Mitra Dialog Pekerja ASEAN di Tengah Gejolak Global

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:02

Kapolri Tekankan Integritas Personel serta Pelayanan Humanis untuk Perkuat Kepercayaan Publik

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:38

Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak

Kamis, 29 Oktober 2026 - 23:36

PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47

PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani

Berita Terbaru