PASURUAN, RadarBangsa.co.id — Peringatan Hari Jadi ke-1.097 Kabupaten Pasuruan di Punden Prasasti Cunggrang, Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kamis (18/9/2026), menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk menegaskan rencana pengembangan situs bersejarah tersebut sebagai destinasi wisata sejarah unggulan.
Pemilihan Punden Prasasti Cunggrang sebagai lokasi peringatan bukan sekadar penanda usia Kabupaten Pasuruan. Pemerintah daerah ingin menjadikan kawasan tersebut sebagai bagian penting dari pembangunan yang tetap bertumpu pada sejarah dan budaya lokal.
Wakil Bupati Pasuruan Shobih Asrori mengatakan, Prasasti Cunggrang memiliki arti penting dalam perjalanan sejarah Kabupaten Pasuruan. Karena itu, keberadaan situs tersebut perlu ditempatkan bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai pijakan untuk menatap masa depan daerah.
“Pemilihan Prasasti Cunggrang ini mengingatkan kita bahwa perjalanan Kabupaten Pasuruan memiliki akar sejarah yang panjang. Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi menjadi pijakan kokoh untuk membangun masa depan,” tutur Gus Shobih.
Secara historis, penetapan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan merujuk pada peristiwa pergeseran pusat pemerintahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur yang tercatat dalam Prasasti Cunggrang bertanggal 18 September 929 Masehi.
Penetapan tersebut kemudian memiliki landasan hukum melalui Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Pasuruan yang disahkan pada 2007 setelah melalui pembahasan panjang di DPRD.
Dalam peringatan tahun ini, Pemkab Pasuruan mengusung tema “Pasuruan Bangkit, Bersama Kita Bisa”. Menurut Gus Shobih, tema tersebut tidak sekadar menjadi slogan, tetapi mengandung ajakan agar kemajuan daerah tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas sejarah dan budaya.
“Kita ingin kebangkitan Pasuruan tidak meninggalkan akar sejarah dan budaya. Justru aspek tersebut harus menjadi kekuatan utama kita untuk melangkah maju,” tegasnya.
Komitmen itu kemudian diarahkan pada pengembangan kawasan Prasasti Cunggrang. Pemkab Pasuruan berencana terus menghidupkan kawasan tersebut melalui agenda tahunan sekaligus menyiapkan penataan agar potensinya sebagai destinasi wisata sejarah dapat dikembangkan lebih jauh.
“Kawasan Prasasti Cunggrang akan terus kita kembangkan dan benahi agar semakin baik dan dikenal masyarakat luas sebagai cikal bakal sejarah Kabupaten Pasuruan,” pungkas Gus Shobih.
Selain aspek sejarah, peringatan Hari Jadi ke-1.097 juga diisi dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon “Wahyu Mustiko Rukmi”. Pertunjukan tersebut menghadirkan tiga dalang, yakni Ki Nasitio Darmawan, Ki Dimas Dwipa Surya, S.Sn., dan Ki Moch. David Herdiansyah, S.H., serta dimeriahkan penampilan bintang tamu DUO JO.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan Agus Hariwibawa mengatakan pemilihan lakon tersebut membawa pesan moral yang dinilai relevan dengan kehidupan masyarakat maupun penyelenggaraan pemerintahan.
“Melalui lakon ini, kita belajar tentang keberanian, kesetiaan, kesabaran, pengabdian, serta perjuangan membedakan antara kebenaran dan keserakahan. Nilai-nilai itulah yang sangat relevan dengan perjalanan pembangunan Kabupaten Pasuruan,” ujar Agus.
Menurut Agus, wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi tuntunan dan media edukasi. Pelestarian kesenian tradisional tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kebersamaan masyarakat.
Dengan usia Kabupaten Pasuruan yang kini mencapai 1.097 tahun, pengembangan Prasasti Cunggrang menjadi destinasi wisata sejarah diharapkan berjalan beriringan dengan pelestarian nilai sejarah dan budaya yang melekat pada kawasan tersebut.
Penulis : Ahmad
Editor : Zainul Arifin


















Komentar