SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU sekaligus Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU) sekaligus mengukuhkan pengurus organisasi tersebut di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Jumat (6/2) malam.
Rakornas yang diikuti para profesor Muslimat NU dari berbagai daerah di Indonesia itu turut dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi. Kegiatan berlangsung sederhana dan bersahaja, namun sarat muatan strategis bagi penguatan peran intelektual perempuan NU di ruang publik.
Dalam sambutannya, Khofifah menegaskan pentingnya kontribusi akademisi perempuan Muslimat NU dalam menjawab tantangan kebangsaan. Menurutnya, kapasitas keilmuan para profesor harus mampu menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat.
“Para profesor Muslimat NU memiliki kekuatan keilmuan yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana ilmu itu dibumikan, memberi solusi konkret, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa,” ujar Khofifah.
Rakornas ini menjadi forum konsolidasi gagasan sekaligus penguatan organisasi. Selain membahas Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) sebagai fondasi kelembagaan, pertemuan juga menjadi ruang pertukaran pemikiran strategis terkait kontribusi keilmuan dalam penguatan nilai keagamaan moderat, pemberdayaan perempuan, dan pembangunan nasional.
Khofifah menilai, tradisi dialog yang egaliter dan hangat justru dapat melahirkan gagasan jernih serta keputusan bijaksana. Ia menekankan bahwa intelektualitas tinggi tidak harus berjarak dengan nilai kerakyatan yang menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama.
“Kekuatan NU terletak pada kebersamaan dan kesederhanaan. Di situlah intelektualitas dan kepekaan sosial dapat berjalan beriringan,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Khofifah juga mengukuhkan kepengurusan APMNU yang dipimpin Prof. Dr. Amany Lubis. Ia berharap APMNU menjadi ruang pengabdian keilmuan yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi masyarakat.
“Ilmu yang tinggi akan semakin bermakna ketika dibumikan dengan ketulusan dan semangat khidmah. Nilai inilah yang harus terus dirawat oleh para profesor Muslimat NU,” pungkas Khofifah.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar