KEDIRI, RadarBangsa.co.id – Program riset kolaborasi antar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jawa Timur resmi diluncurkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Kota Kediri, Rabu (15/4). Program ini disiapkan untuk mendorong kebijakan publik yang lebih akurat melalui pendekatan berbasis data dan ilmu pengetahuan.
Peluncuran dilakukan dalam Rapat Kerja I Tahun 2026 Paguyuban Rektor PTN se-Jawa Timur di UIN Syekh Wasil Kediri. Langkah ini dinilai menjadi upaya serius mempertemukan kebutuhan pemerintah daerah dengan kapasitas akademik kampus.
Khofifah menegaskan pembangunan daerah tidak bisa lagi hanya bertumpu pada kebijakan administratif. Menurutnya, setiap keputusan strategis harus ditopang hasil penelitian yang terukur agar dampaknya nyata bagi masyarakat.
Ia menilai kampus memiliki sumber daya ilmiah yang mampu menjawab berbagai tantangan, mulai dari ekonomi, pendidikan, ketahanan pangan, hingga transformasi digital. Karena itu, sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dinilai mendesak untuk diperkuat.
Selain riset dasar, Khofifah juga menyoroti pentingnya ilmu terapan atau *applied science*. Hasil penelitian diharapkan tidak berhenti di ruang seminar, tetapi bisa diimplementasikan di sektor industri, usaha, hingga penguatan kualitas pendidikan vokasi seperti SMK.
Di sisi lain, forum rektor PTN Jawa Timur menyatakan siap terlibat aktif. Mereka bahkan telah menghimpun dana bersama sebagai modal awal pengembangan riset strategis lintas kampus.
“Ini menjadi tantangan besar bagi seluruh civitas akademika, karena sangat penting bagaimana kolaborasi ini untuk bisa menghasilkan riset-riset unggulan untuk Jawa Timur,” kata Khofifah.
Ketua Paguyuban Rektor PTN se-Jawa Timur Prof. Nurhasan menambahkan, “Kita sudah mengumpulkan anggaran masing-masing PTN Rp1 miliar, jadi kita sudah punya anggaran Rp15 miliar untuk mendukung program-program Perguruan Tinggi Jawa Timur.”
Peluncuran riset kolaborasi PTN Jatim berpotensi mengubah pola penyusunan kebijakan daerah. Jika berjalan efektif, pemerintah bisa memiliki dasar keputusan yang lebih presisi sekaligus mengurangi program yang tidak tepat sasaran.
Bagi masyarakat, dampaknya bisa terasa lewat kebijakan yang lebih relevan terhadap kebutuhan lapangan kerja, peningkatan layanan publik, serta penguatan sektor ekonomi daerah.
Khofifah menegaskan kolaborasi ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan Jawa Timur. “Kalau Jawa Timur maju melaju, maka ini memiliki daya dorong yang sangat kuat untuk Indonesia maju melaju,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar