PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Menjelang bulan suci Ramadhan, industri rumahan sari matoa di Desa Karangsono, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, mencatat lonjakan pesanan signifikan. Ribuan kardus minuman lokal siap dikirim untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sebagai pelengkap hidangan Hari Raya Idul Fitri.
Sejak 2016, Wiji Astuti, warga Desa Karangsono, mengembangkan usaha sari matoa. Produksi minuman ini berbasis buah matoa asli Papua yang kini tumbuh subur di Sukorejo. Setiap tahunnya menjelang Ramadhan, permintaan meningkat tajam. Selasa (20/1/2026), Wiji tampak sibuk menata ribuan kardus sari matoa yang dikemas dalam botol dan gelas.
“Alhamdulillah, saat ini kami sedang menyelesaikan order lima ribu kardus kecil,” kata Wiji, pemilik usaha. Setiap kardus berisi sari matoa kemasan gelas seharga Rp 25 ribu. Semua pesanan berasal dari Pasuruan, sebagian besar untuk pabrik dan masyarakat lokal yang membutuhkan stok minuman saat Lebaran.
Produksi sari matoa dimulai dari pemilihan buah matoa segar, yang kemudian dicuci bersih sebelum diolah. Proses ekstraksi sari buah dilakukan dengan tekanan dan suhu tertentu untuk menjaga kesegaran dan kandungan nutrisi. Setelah itu, sari dicampur dengan buah tambahan seperti leci, rambutan, dan kelengkeng untuk menciptakan rasa unik dan segar.
Kemasan dilakukan secara higienis, baik dalam botol maupun gelas, lalu dipastikan tersimpan di lemari pendingin agar kualitas rasa tetap terjaga hingga sampai ke konsumen. “Kalau disimpan di lemari pendingin, rasanya segar sekali. Bagi yang ingin mencicipi, silakan datang langsung,”tegas Wiji.
Selain sebagai minuman pelengkap Lebaran, sari matoa menjadi simbol potensi ekonomi desa. Wiji menegaskan, usaha ini membuka peluang kerja bagi warga setempat, sekaligus memanfaatkan buah matoa yang tumbuh di Sukorejo. “Dengan produksi berkelanjutan, kami tidak hanya memenuhi permintaan masyarakat, tetapi juga mendorong kebangkitan ekonomi lokal,” ujarnya.
Industri rumahan ini membuktikan bahwa produk lokal dapat bersaing dengan minuman komersial, sekaligus memperkenalkan buah matoa yang unik ke masyarakat luas.
Permintaan yang terus meningkat menjadi sinyal positif bagi pengembangan usaha sari matoa. “Kami berkomitmen menjaga kualitas dan kontinuitas produksi agar minuman sari matoa selalu tersedia, terutama menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri,”tutup Wiji.
Lainnya:
- Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal
- Menteri PKP Turun ke Bangkalan, 573 Rumah Warga Siap Dibedah Tahun Ini
- Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








