Senator Cantik Ning Lia Tak Hanya Reses, Forum Kebudayaan Jadi Ruang Dekat dengan Masyarakat Madura

Selasa, 1 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ning Lia saat menghadiri bedah buku di Madura, Minggu, 23 Agustus 2026. (Dok HO/RadarBangsa.co.id)

Ning Lia saat menghadiri bedah buku di Madura, Minggu, 23 Agustus 2026. (Dok HO/RadarBangsa.co.id)

SUMENEP, RadarBangsa.co.id – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau Ning Lia, semakin intens membangun komunikasi langsung dengan masyarakat Madura sepanjang 2026.

Kunjungan tersebut mencakup empat kabupaten, yakni Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Agenda Ning Lia tidak hanya berkaitan dengan reses dan penyerapan aspirasi, tetapi juga menjadi ruang pertemuan dengan berbagai elemen masyarakat.

Ia tercatat bertemu dengan pemangku kebijakan, pemuda, aktivis, jurnalis, pengusaha, serta para kiai dan ulama. Hampir setiap bulan sepanjang 2026, terdapat agenda kunjungan Ning Lia ke Madura, baik dalam kegiatan formal maupun kegiatan sosial, intelektual, dan kemasyarakatan.

Salah satu agenda berlangsung pada Minggu, 23 Agustus 2026. Sekitar pukul 10.26 WIB, Ning Lia menghadiri bedah buku Diaspora Madura: Resiliensi, Strategi, dan Transformasi Pasca-konflik Etnik karya Prof. Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si., di ruang VIP Rumah Makan Bebek Sinjay Baru, Madura.

Forum tersebut dihadiri sejumlah kiai, pejabat, dan pengusaha. Pembahasan tidak hanya mengulas perjalanan diaspora Madura, tetapi juga proses masyarakat membangun kembali kehidupan sosial setelah mengalami konflik.

Buku tersebut mengangkat tiga gagasan utama, yakni resiliensi, strategi, dan transformasi.

Resiliensi digambarkan melalui kemampuan masyarakat diaspora Madura untuk bangkit dari pengalaman traumatis dan beradaptasi secara konstruktif dengan lingkungan sosial baru.

Sementara aspek strategi terlihat dari upaya memperluas orientasi pendidikan, membangun sumber daya manusia, menolak stereotip etnik, serta mengembangkan organisasi yang mampu menciptakan ruang publik yang inklusif, moderat, dan toleran.

Adapun transformasi ditandai dengan munculnya peran baru diaspora Madura. Mereka tidak hanya mempertahankan budaya dan tradisi berdagang, tetapi juga mulai berperan dalam politik formal, baik sebagai anggota legislatif maupun eksekutif.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa diaspora Madura dapat mengambil bagian dalam membangun masyarakat multikultural yang rukun, adil, dan berdaya.

Ning Lia menilai salah satu kekuatan buku tersebut terletak pada keberaniannya melihat persoalan pascakonflik dalam perspektif jangka panjang.

“Konflik selalu menarik perhatian ketika darah masih mengalir. Setelah kekerasan berhenti dan masyarakat mulai menata kembali kehidupannya, perhatian pun perlahan menghilang. Seolah-olah sejarah berakhir ketika senjata diletakkan,” kata Ning Lia.

Menurut dia, fase setelah konflik justru menyimpan proses penting. Masyarakat harus membangun kembali kepercayaan, memperbaiki hubungan sosial, dan menciptakan ruang kehidupan bersama yang lebih damai.

Ning Lia mengaitkan gagasan tersebut dengan konsep peacebuilding yang dikembangkan John Paul Lederach. Dalam buku Building Peace (1997), Lederach menekankan bahwa perdamaian tidak hanya dibangun melalui kesepakatan politik, tetapi juga melalui pemulihan hubungan sosial dan tumbuhnya kembali kepercayaan di masyarakat.

Dalam konteks tersebut, pesantren, organisasi kemasyarakatan, serta forum lintas etnik dapat menjadi ruang untuk membangun kembali kepercayaan.

Ia juga melihat adanya irisan dengan pemikiran Ashutosh Varshney dalam Ethnic Conflict and Civic Life (2002), terutama mengenai pentingnya jejaring sipil lintas etnik dalam mencegah konflik.

Menurut Ning Lia, pengalaman diaspora Madura menunjukkan bahwa perdamaian tidak cukup dibangun melalui slogan toleransi. Hubungan sosial yang berlangsung secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang damai.

Meski memberikan apresiasi, Ning Lia mengatakan dirinya masih perlu membaca keseluruhan buku secara lebih mendalam sebelum memberikan penilaian lebih jauh.

“Melihat optimisme buku ini, saya kira saya perlu membaca secara detail terlebih dahulu sebelum banyak berkomentar,” ujarnya.

Kehadiran Ning Lia dalam forum tersebut sekaligus memperlihatkan pola komunikasinya selama berada di Madura. Sebagai anggota DPD RI, ia tidak hanya mengandalkan forum resmi untuk menyerap aspirasi, tetapi juga membangun komunikasi melalui berbagai perjumpaan dengan masyarakat.

Pertemuan dengan pemuda, aktivis, jurnalis, pejabat, pengusaha, kiai, dan ulama menjadi bagian dari ruang dialog yang memungkinkan berbagai persoalan daerah disampaikan secara langsung.

Dalam konteks fungsi representasi, komunikasi langsung dengan masyarakat menjadi salah satu cara anggota DPD RI memahami persoalan di daerah pemilihan sebelum membawanya ke tingkat nasional.

Kehadiran senator di daerah juga menunjukkan bahwa fungsi representasi tidak berhenti di ruang sidang parlemen. Hubungan dengan masyarakat di daerah pemilihan tetap menjadi bagian penting dalam menjalankan mandat sebagai wakil daerah.

Sepanjang 2026, Madura menjadi salah satu wilayah yang cukup sering dikunjungi Ning Lia. Dari Sumenep hingga Bangkalan, berbagai agenda tersebut menjadi ruang perjumpaan antara senator dengan masyarakat serta tokoh-tokoh yang memiliki peran dalam kehidupan sosial Madura.

Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari agenda reses, tetapi juga memperlihatkan upaya membangun kedekatan, mendengar aspirasi secara langsung, dan menjaga komunikasi dengan masyarakat Jawa Timur.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Baihaki Sirajt Ungkap Alasan Lia Istifhama Dinilai Positif di Jawa Timur
LP2B Jatim Capai 87,34 Persen, Khofifah Dorong Sinkronisasi Lahan Pertanian dan Industrialisasi
Sosialisasi Empat Pilar di Probolinggo, Senator Cantik Anggota DPD RI Lia Istifhama Ajak Pemuda Aktif Kawal Regulasi
Bahas RUU Pertanahan, Lia Istifhama Cairkan Suasana Rapat Komite I DPD RI dengan Pantun
Senator Anggota DPD RI Lia Istifhama Dorong RUU Pertanahan Lindungi Masyarakat dari Sengketa dan Mafia Tanah
Anggota DPD Lia Istifhama Apresiasi Perhatian Pemprov Jatim terhadap Pendidikan Al-Qur’an
Defisit Fiskal Disorot DPRD Ngawi, Perda Perubahan APBD 2026 Disahkan
Anggota DPR RI Lia Istifhama Apresiasi Gresik Hajj Fest, Dorong Layanan Jemaah

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 19:17

Baihaki Sirajt Ungkap Alasan Lia Istifhama Dinilai Positif di Jawa Timur

Selasa, 15 September 2026 - 18:30

LP2B Jatim Capai 87,34 Persen, Khofifah Dorong Sinkronisasi Lahan Pertanian dan Industrialisasi

Selasa, 15 September 2026 - 14:12

Sosialisasi Empat Pilar di Probolinggo, Senator Cantik Anggota DPD RI Lia Istifhama Ajak Pemuda Aktif Kawal Regulasi

Selasa, 15 September 2026 - 10:21

Bahas RUU Pertanahan, Lia Istifhama Cairkan Suasana Rapat Komite I DPD RI dengan Pantun

Selasa, 15 September 2026 - 10:05

Senator Anggota DPD RI Lia Istifhama Dorong RUU Pertanahan Lindungi Masyarakat dari Sengketa dan Mafia Tanah

Berita Terbaru