JAKARTA, RadarBangsa.co.id — Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN (Mendukbangga/BKKBN) Wihaji menekankan urgensi revolusi pola asuh keluarga menyusul meningkatnya kasus anak kesepian dan kecanduan gawai. Fenomena ini dinilai mengancam perkembangan emosional dan sosial anak di era digital.
Wihaji mengungkapkan, anak-anak saat ini memiliki akses luas ke informasi melalui perangkat digital, namun justru mengalami keterbatasan interaksi emosional dengan orang tua. Menurutnya, waktu yang dihabiskan anak dengan gawai kerap menggantikan kualitas komunikasi di rumah.
“Anak-anak kita terlihat aktif di dunia digital, tetapi banyak yang sebenarnya kesepian. Pengasuhan tidak bisa diserahkan pada gawai,” tegas Wihaji saat menerima Senator DPD RI Jawa Timur, Lia Istifhama, di kantor Mendukbangga/BKKBN, Kamis (15/1).
Mendukbangga menekankan, solusi bukan sekadar pembatasan penggunaan gawai, melainkan pembenahan pola asuh dan penguatan delapan fungsi keluarga: agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, ekonomi, reproduksi, pendidikan, dan sosialisasi.
“Ketahanan bangsa dimulai dari rumah. Anak tidak pernah sepenuhnya salah. Yang harus kita benahi adalah pola asuh dan kehadiran orang tua,” ujarnya.
Senator Lia menegaskan, kecanduan gawai sering mencerminkan minimnya kehadiran orang tua secara emosional. Ia menekankan pentingnya membangun kembali dialog dan kedekatan dalam keluarga, khususnya peran ayah yang kerap kurang terlibat.
“Ketika orang tua tidak hadir secara emosional, anak mencari pelarian. Revolusi pola asuh harus dimulai dengan membangun kembali dialog dan kedekatan di rumah,” kata Lia.
Menurut Lia, penguatan peran orang tua menjadi kunci membentuk karakter, ketahanan mental, dan kepercayaan diri anak, sekaligus menyiapkan generasi yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Pertemuan ini menegaskan komitmen Mendukbangga/BKKBN dan DPD RI untuk mendorong kebijakan pembangunan keluarga yang adaptif terhadap tantangan digital, menempatkan keluarga sebagai pusat pembentukan karakter dan ketahanan bangsa. Kebijakan diharapkan memperkuat ikatan emosional keluarga sekaligus mengurangi dampak negatif gawai terhadap anak.
Lainnya:
- Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal
- Menteri PKP Turun ke Bangkalan, 573 Rumah Warga Siap Dibedah Tahun Ini
- Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








