SIDOARJO, RadarBangsa.co.id – Inspeksi mendadak (sidak) Bupati Sidoarjo H. Subandi ke sentra perajin topi di Desa Punggul, Kecamatan Gedangan, Jumat (24/4/2026), mengungkap persoalan serius: produk lokal kalah di pasar sendiri. Di tengah ribuan sekolah di Sidoarjo, pesanan justru didominasi dari luar daerah.
Temuan ini memunculkan ironi dalam rantai ekonomi lokal. Potensi pasar internal yang besar belum terhubung dengan pelaku UMKM, sehingga perputaran ekonomi daerah tidak optimal dan berdampak langsung pada pendapatan perajin.
“Kita punya lebih dari seribu sekolah. Seharusnya ini jadi pasar utama UMKM lokal, bukan malah didominasi pesanan luar daerah,” tegas Subandi saat meninjau Master Konveksi.
Menurutnya, rendahnya serapan produk lokal bukan sekadar persoalan pemasaran, tetapi juga lemahnya sinergi antarinstansi. Ia menilai perlu intervensi kebijakan agar belanja kebutuhan sekolah bisa berpihak pada pelaku usaha lokal.
Pemkab Sidoarjo, lanjut Subandi, akan segera memanggil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta para kepala sekolah. Langkah ini untuk mendorong penggunaan produk UMKM lokal, khususnya perlengkapan sekolah seperti topi.
“Kalau belanja di UMKM sendiri, dampaknya langsung terasa ke ekonomi warga. Ini yang harus kita dorong,” ujarnya.
Selain membuka akses pasar, Pemkab juga menyiapkan solusi konkret berupa pendampingan perizinan usaha. Legalitas dinilai menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk mendapatkan akses permodalan dan program bantuan pemerintah.
“Izin UMKM akan kita bantu dan kawal. Dengan legalitas, mereka bisa naik kelas dan lebih mudah berkembang,” tegasnya.
Subandi juga mengakui, sistem perizinan berbasis online belum sepenuhnya dimanfaatkan pelaku UMKM. Karena itu, pendampingan teknis akan diperkuat agar proses lebih cepat dan tidak membingungkan pelaku usaha kecil.
Sementara itu, Fuad, pemilik Master Konveksi, mengaku kesulitan menembus pasar lokal meski sudah mencoba menawarkan produk ke sekolah-sekolah. “Sering diminta contoh, tapi tidak ada kelanjutan pesanan,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat menjembatani kebutuhan sekolah dengan produk UMKM lokal. Dengan intervensi kebijakan dan pendampingan nyata, pelaku usaha berharap bisa menjadi tuan rumah di daerah sendiri.
“Kalau pasar lokal terbuka, kami pasti bisa berkembang,” pungkasnya.
Lainnya:
- Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal
- Menteri PKP Turun ke Bangkalan, 573 Rumah Warga Siap Dibedah Tahun Ini
- Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948
Penulis : Tom
Editor : Zainul Arifin








