MATARAM, RadarBangsa.co.id – Provinsi Nusa Tenggara Barat tengah bersiap menyambut gelaran Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) VIII 2025 yang akan berlangsung pada 26 Juli hingga 1 Agustus. Bagi Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, ajang ini bukan sekadar festival olahraga, tetapi momentum strategis untuk menggerakkan ekonomi lokal.
“Pastikan dampak lokalnya benar-benar terasa. Ini keputusan strategis pertama kita. Jangan sampai kegiatan sebesar ini malah jadi tontonan tanpa manfaat bagi warga,” tegas Miq Iqbal, sapaan akrab Gubernur, saat memimpin rapat pimpinan di Gedung Sangkareang, Senin (21/7/2025).
Dalam rapat tersebut, Gubernur kembali menegaskan bahwa pelaksanaan FORNAS tidak akan menggandeng event organizer dari luar daerah. Seluruh kegiatan, mulai dari produksi jingle, pengisi acara, hingga koreografi pembukaan, dikerjakan oleh talenta NTB sendiri.
“Kita percayakan ke anak-anak muda NTB. Mereka punya kapasitas, tinggal diberi panggung. Ini soal kepercayaan terhadap kemampuan daerah sendiri,” ujar Miq Iqbal.
Salah satu seniman muda NTB, Rizka Maulidya, yang ikut terlibat dalam pembuatan koreografi pembukaan, mengaku bangga diberi kepercayaan. “Selama ini kami hanya jadi penonton di event-event nasional. Sekarang kami yang tampil, kami yang unjuk karya,” ungkapnya.
Berbeda dengan gelaran PON, peserta FORNAS menanggung sendiri biaya akomodasi dan transportasi. Hal ini justru menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal di sektor transportasi dan perhotelan.
“Kalau di PON semuanya dibayarin, di FORNAS ini justru peserta datang dan belanja sendiri. Hotel kami penuh sejak pertengahan Juli, dan pesanan shuttle harian naik dua kali lipat,” ujar Andi Rahman, pemilik jasa transportasi wisata di Mataram.
Miq Iqbal menyebutkan, “Kita ingin memastikan ekonomi bergerak dari bawah. Biar rakyat yang menikmati. Ini bukan hanya olahraga, tapi momen perputaran uang di NTB.”
Kepala Dinas Kominfotik NTB, Yusron Hadi, dalam keterangan resminya mengatakan bahwa dampak dari FORNAS sudah mulai terasa. Hingga H-10 pembukaan, tingkat hunian hotel di Mataram, Lombok Tengah, dan Lombok Barat rata-rata mencapai 90 persen.
“Hotel-hotel di sekitar venue bahkan sudah full booked sejak minggu kedua Juli. Ini bukti bahwa FORNAS bukan hanya mendatangkan atlet, tapi juga wisatawan, relawan, hingga keluarga peserta yang turut meramaikan,” jelas Yusron.
Hal ini diamini oleh Siti Nurjanah, manajer salah satu hotel non-bintang di Lombok Tengah. “Kami biasanya baru penuh kalau ada libur nasional. Tapi sekarang bahkan hari biasa pun kamar habis. FORNAS ini benar-benar berkah,” katanya sambil tersenyum.
Pemerintah Provinsi NTB menargetkan perputaran ekonomi yang dihasilkan dari penyelenggaraan FORNAS bisa mencapai Rp100 hingga Rp130 miliar. Sektor transportasi, akomodasi, kuliner, UMKM, dan wisata menjadi tumpuan utama.
“Semua sektor bergerak. Bahkan pedagang kecil di sekitar venue pun ikut kecipratan rezeki. Ini bukti bahwa ekonomi lokal bisa bangkit lewat event yang dirancang dengan keberpihakan,” kata Yusron.
Salah satu pelaku UMKM, Pak Arif, penjual sate rembiga di dekat arena utama, mengaku omzetnya naik dua kali lipat. “Biasanya sehari 200 tusuk, sekarang bisa 500. Banyak rombongan dari luar daerah yang mampir. Alhamdulillah,” tuturnya.
Untuk mendukung kelancaran mobilisasi ribuan peserta dari 38 provinsi, Pemprov NTB telah menyiapkan seluruh moda transportasi, termasuk armada shuttle menuju dan dari venue pertandingan.
“Kita pastikan transportasi berjalan lancar. Koordinasi dengan Dishub, kepolisian, dan pengelola venue sudah matang. Jangan sampai tamu kita kesulitan di lapangan,” ujar Gubernur.
Sementara itu, seorang relawan transportasi, Dimas Wicaksana, mengaku senang bisa ikut berkontribusi. “Ini pengalaman berharga. Bukan cuma bantu peserta, tapi juga bisa tunjukkan keramahan NTB ke tamu-tamu dari seluruh Indonesia,” ujarnya.
Dengan berbagai kesiapan yang sudah berjalan, Gubernur berharap FORNAS VIII tak hanya sukses dari sisi teknis, tapi benar-benar meninggalkan jejak positif bagi masyarakat NTB.
“Bukan sekadar sukses seremoni, tapi harus sukses manfaat. Ini milik kita, dan harus menjadi kebanggaan kita,” pungkas Miq Iqbal.
Lainnya:
- Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal
- Menteri PKP Turun ke Bangkalan, 573 Rumah Warga Siap Dibedah Tahun Ini
- Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948
Penulis : Aini
Editor : Zainul Arifin








