SEMARANG, RadarBangsa.co.id – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah terus memperluas edukasi keuangan digital kepada masyarakat. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan “Srawung Karo Babinsa” yang berlangsung di Balai Diponegoro, Kota Semarang, pada 20 November 2025. Agenda yang digelar secara hybrid ini diikuti hampir 1.000 peserta dari berbagai kabupaten/kota se-Jawa Tengah.
Program ini menjadi bentuk sinergi BI Jawa Tengah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meningkatkan pemahaman para Bintara Pembina Desa (Babinsa)—sosok yang selama ini memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat di tingkat desa. Melalui peran strategis Babinsa, BI menilai literasi keuangan dapat menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas dan merata.
Dalam kegiatan tersebut, BI memberikan dua materi utama: perkembangan digitalisasi sistem pembayaran serta pelindungan konsumen di tengah meningkatnya ancaman kejahatan digital. Materi disampaikan langsung oleh para Duta Komunikasi BI, yang mewakili generasi muda dalam menyampaikan pesan mengenai keamanan transaksi digital.
Salah satu Duta Komunikasi BI, Hafids Haryonno dari Universitas Diponegoro, menjelaskan perkembangan digitalisasi di sektor pembayaran, termasuk peningkatan adopsi QRIS dan inovasi QRIS Tuntas. Menurutnya, transformasi sistem pembayaran memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pelaku UMKM, terutama terkait efisiensi transaksi dan transparansi pencatatan keuangan. Ia menegaskan bahwa pemahaman Babinsa atas teknologi tersebut dapat mempercepat edukasi ke tingkat akar rumput.
Duta Komunikasi lainnya, M. Muchibbudin dari UIN Walisongo, memaparkan materi mengenai pelindungan konsumen BI. Ia menyoroti tren meningkatnya modus kejahatan digital seperti phishing, social engineering, hingga penyalahgunaan QRIS oleh pihak tidak bertanggung jawab. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat, terutama terkait permintaan data pribadi dan tautan mencurigakan.
“Babinsa memiliki peran penting dalam menjaga ketertiban dan memberikan pendampingan kepada warga. Karena itu, literasi digital bagi Babinsa menjadi langkah preventif untuk meminimalkan risiko penipuan keuangan di tingkat desa,” ujar Muchibbudin dalam sesi paparan.
Untuk memberikan pengalaman langsung, peserta juga mengikuti program Tebus Murah menggunakan QRIS. Aktivitas ini bertujuan memperlihatkan kemudahan transaksi digital sekaligus mendorong masyarakat semakin terbiasa dengan pembayaran nontunai.
Kepala BI Jawa Tengah berharap kolaborasi ini mendorong penyebaran edukasi keuangan yang lebih komprehensif di tengah maraknya kejahatan digital. Ia menekankan bahwa peran Babinsa menjadi kunci untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai keamanan transaksi dan penggunaan QRIS secara benar.
“Harapan kami, Babinsa tidak hanya memahami konsep digitalisasi pembayaran, tetapi juga mampu menyampaikan informasi yang benar dan mudah diterima masyarakat. Dengan begitu, risiko penipuan dapat ditekan, dan masyarakat semakin percaya menggunakan layanan keuangan digital,” ujarnya.
Bank Indonesia menilai, literasi keuangan digital yang merata menjadi fondasi penting untuk memperkuat ekosistem pembayaran di era modern. Melalui pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan makin terlindungi dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi keuangan.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin









