SIDOARJO, RadarBangsa.co.id – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyiapkan opsi adaptasi jalur kereta api Surabaya-Malang menyusul tingginya risiko deformasi tanah di kawasan tanggul lumpur Lapindo, Sidoarjo. Salah satu alternatif yang dikaji adalah mengalihkan lintasan melalui Tulangan hingga kembali tersambung ke Gunung Gangsir sebagai langkah mitigasi terhadap potensi gangguan pada jalur eksisting.
Rencana tersebut mengemuka setelah Emil meninjau langsung tanggul lumpur Lapindo pada Kamis (23/7). Dalam peninjauan itu, ia didampingi Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur Nyono serta Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Denny Michels Adlan.
Menurut Emil, jalur rel yang berada di sisi tanggul perlu diantisipasi sejak dini karena berada di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Kajian tersebut akan segera dilaporkan kepada Gubernur Jawa Timur dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian sebagai bahan pengambilan keputusan.
“Dengan urgensi ini maka kita tadi sedang mengkaji, kita akan laporkan ke gubernur dan Pak Dirjen, bahwa sebaiknya ini digeser. Beliau sudah punya gambarannya, jadi nanti dari Sidoarjo belok dulu ke Tulangan,” kata Emil.
Ia menjelaskan, skema tersebut tetap mempertimbangkan akses masyarakat yang selama ini memanfaatkan Stasiun Tanggulangin dan Porong. Lokasi stasiun direncanakan bergeser agar pelayanan kereta tetap mudah dijangkau sebelum jalur kembali tersambung ke Gunung Gangsir menuju Malang.
“Warga yang biasa pakai Stasiun Tanggulangin dan Porong tidak kemudian merasa terlalu jauh. Geser agak ke sana stasiunnya, kemudian nanti ketemu lagi di Gunung Gangsir, dari Gunung Gangsir ke Malang,” ujarnya.
Kajian itu juga menjadi bagian dari rencana jangka panjang pembangunan jalur ganda atau double track yang menghubungkan Sidoarjo hingga Malang. Emil menilai pengembangan infrastruktur tersebut akan meningkatkan kapasitas sekaligus kenyamanan layanan transportasi kereta api bagi masyarakat.
“Dari situ kita punya cita-cita sebenarnya dari Sidoarjo ke Malang ini lanjut double track juga sehingga ada layanan kereta baru yang bisa melayani lebih nyaman bagi yang mau dari Malang ke Surabaya,” jelasnya.
Emil menegaskan, langkah adaptasi tersebut merupakan bentuk antisipasi terhadap kemungkinan meluasnya rembesan lumpur yang dapat memengaruhi keamanan jalur rel. Berdasarkan kondisi geologi di lokasi, kawasan sekitar tanggul masuk kategori daerah dengan deformasi vertikal yang berpotensi mengalami penurunan permukaan tanah.
“Artinya kemungkinan terjadinya ambles itu sangat-sangat tinggi, dan ini sangat berbahaya,” tegasnya.
Terkait kondisi tanggul, Emil memastikan rembesan air dan lumpur di titik 10D bukan disebabkan kegagalan konstruksi tanggul. Menurutnya, fenomena tersebut dipicu oleh penurunan permukaan tanah di kawasan terdampak. Penanganan kawasan lumpur sendiri berada di bawah kewenangan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) Kementerian Pekerjaan Umum serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Dalam kunjungan tersebut, Emil juga berkomunikasi dengan perwakilan KfW, Bank Pembangunan Jerman yang menjadi lembaga pendanaan proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL). Pembahasan diarahkan pada kemungkinan pemanfaatan skema pendanaan untuk mendukung kajian teknis pergeseran jalur kereta api apabila diperlukan.
“Tadi kita sempat bicara dengan rekan-rekan dari KfW Jerman, bagaimana kalau di lingkup pendanaan yang sudah ada untuk SRRL ada satu pendanaan untuk mengkaji ini. Tapi tergantung Pak Dirjen, kalau ternyata dari APBN juga sudah lebih cepat ada ya Alhamdulillah,” sebutnya.
Ia menegaskan proses persiapan tidak boleh saling menunggu agar mitigasi dapat dilakukan lebih cepat. Menurutnya, seluruh pihak perlu bekerja secara paralel sehingga opsi rute alternatif Tulangan-Gunung Gangsir dapat segera dipersiapkan.
Di samping pengamanan jalur transportasi strategis Surabaya-Malang, Emil juga menaruh perhatian terhadap keselamatan warga yang masih bermukim di kawasan terdampak. Ia mengakui relokasi bukan langkah mudah, namun pemerintah harus mulai menyiapkan solusi agar risiko yang dihadapi masyarakat tidak semakin besar.
“Saya juga khawatir sama nasib warga. Kita sebagai pemerintah harus punya empati. Pindah itu tidak gampang untuk warga. Ayo kita sembari mencari solusi, tapi jangan sambil menunggu masalahnya bertambah. Status quo harus dijaga jangan sampai memburuk sembari mencari solusi,” pungkasnya.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya Denny Michels Adlan mengatakan pihaknya pada prinsipnya ingin melanjutkan relokasi jalur short cut Gunung Gangsir-Tulangan. Namun, keputusan tersebut tetap menunggu kepastian kondisi kawasan yang hingga kini masih berstatus rawan akibat aktivitas lumpur Lapindo.
Denny mengungkapkan pembebasan lahan sepanjang sekitar lima kilometer sebenarnya telah dilakukan sebelum pandemi Covid-19. Proses tersebut kemudian terhenti, padahal keseluruhan relokasi membutuhkan pembebasan lahan sekitar 20 kilometer.
“Karena kita perlu meyakini dulu kalau memang clear aman, kita teruskan. Pada saat Covid sempat berhenti, tadinya kita sempat melakukan pembebasan lahan. Sekarang kami coba atensi lagi untuk bisa kita selesaikan,” tutupnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar