JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan perusahaan tidak cukup hanya menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Dunia usaha juga diminta membuka ruang pengembangan karier bagi para pekerja agar mereka memiliki kesempatan belajar, meningkatkan keterampilan, serta mampu menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin cepat.
Pernyataan itu disampaikan Yassierli di Jakarta saat menyoroti pentingnya hubungan industrial yang sehat dan berkelanjutan. Menurutnya, pekerja tidak seharusnya berada pada posisi yang sama selama bertahun-tahun tanpa kesempatan untuk berkembang secara profesional.
Yassierli menjelaskan bahwa pengembangan kapasitas pekerja harus dipandang sebagai bagian penting dari strategi jangka panjang perusahaan. Perusahaan yang memberi kesempatan bagi pekerjanya untuk berkembang dinilai akan memperoleh dampak positif dalam jangka panjang, baik dari sisi produktivitas maupun loyalitas tenaga kerja.
Menurut dia, pekerja yang diberikan ruang untuk belajar dan meningkatkan kemampuan cenderung memiliki keterikatan emosional dengan perusahaan. Kondisi tersebut akan mendorong semangat kerja yang lebih tinggi serta meningkatkan kontribusi nyata terhadap keberlangsungan usaha.
“Ini harus kita pahami sebagai sebuah strategi. Ketika kita memampukan pekerja dan memberdayakan mereka, itu akan memberikan efek jangka panjang bagi perusahaan,” ujar Yassierli.
Ia menilai konsep pemberdayaan pekerja bukan sekadar memberikan tugas atau tanggung jawab rutin. Lebih dari itu, perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang membuat pekerja merasa pekerjaannya memiliki makna dan kontribusi yang jelas.
Dengan demikian, pekerja tidak hanya menjalankan kewajiban, tetapi juga memiliki semangat untuk memberikan kinerja terbaik bagi perusahaan tempat mereka bekerja.
“Memberdayakan pekerja artinya membuat pekerjaan mereka menjadi meaningful. Mereka punya engagement, punya semangat yang bahkan bisa melampaui sekadar menjalankan tugas mereka,” kata Yassierli.
Selain mendorong peningkatan kompetensi, ia juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai sosial yang selama ini menjadi karakter masyarakat Indonesia. Nilai gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah dinilai penting untuk memperkuat hubungan antara pekerja dan perusahaan.
Menurutnya, nilai tersebut dapat menjadi fondasi kuat dalam menciptakan hubungan industrial yang harmonis dan saling mendukung di tengah dinamika dunia kerja modern.
“Ada yang hilang dari DNA kita. Kita bangsa yang punya semangat gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah. DNA ini harus kita bangkitkan kembali,” ujarnya.
Yassierli juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena pekerja yang telah mengabdi selama puluhan tahun namun tidak mengalami perkembangan keterampilan maupun karier. Menurutnya, kondisi semacam itu tidak boleh dianggap sebagai hal yang normal.
Ia menilai setiap individu memiliki potensi yang besar untuk berkembang. Karena itu, perusahaan memiliki tanggung jawab moral sekaligus strategis untuk membantu pekerja menemukan dan mengoptimalkan potensi tersebut.
“Yang membuat saya sedih adalah ketika ada orang bekerja 10 tahun bahkan 20 tahun di perusahaan tetapi tidak berkembang. Padahal manusia memiliki potensi yang sangat besar,” kata dia.
Sebagai contoh konkret, Yassierli mengaku sering mendorong pekerja di berbagai posisi untuk mempelajari keterampilan baru, termasuk kemampuan dasar komputer. Hal itu berlaku tidak hanya bagi staf administrasi, tetapi juga pekerja di sektor operasional.
“Driver saya dorong belajar komputer. Satpam dan OB juga saya dorong belajar komputer. Kita tidak ingin mereka selamanya berada di posisi itu,” ujarnya.
Langkah tersebut dinilai penting agar pekerja memiliki bekal menghadapi perubahan teknologi dan transformasi dunia kerja yang semakin cepat.
Menaker juga mengingatkan bahwa masa depan dunia kerja akan diwarnai tingkat ketidakpastian yang tinggi. Dalam situasi tersebut, kemampuan beradaptasi atau agility menjadi kunci utama bagi pekerja maupun perusahaan agar tetap bertahan dan berkembang.
Ia berharap perusahaan-perusahaan besar di Indonesia dapat menjadi contoh dalam menciptakan hubungan industrial yang tidak hanya produktif, tetapi juga memanusiakan pekerja serta mempersiapkan mereka menghadapi tantangan masa depan.
“Tantangan ke depan tidak mudah. Ketidakpastian sangat tinggi. Karena itu agility menjadi kunci,” ujar Yassierli.
“Saya berharap perusahaan seperti Jasa Marga bisa menunjukkan bagaimana perusahaan memanusiakan pekerja dan mempersiapkan mereka menghadapi tantangan ke depan,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar