SEMARANG, RadarBangsa.co.id – Mooncake Festival 2026 masih berlangsung di kawasan Pecinan Semarang pada Sabtu (26/9/2026). Festival yang dibuka pada Kamis (24/9/2026) tersebut menjadi ruang perjumpaan budaya yang memadukan tradisi, sejarah, kuliner, seni, teknologi, dan kehidupan masyarakat.
Rangkaian Mooncake Festival 2026 berlangsung dalam periode 23–27 September 2026 di kawasan Pecinan Semarang. Salah satu pusat kegiatan berada di Klenteng Tay Kak Sie.
Festival ini juga menghadirkan Heritage Food Festival 2026 yang melibatkan 75 tenant UMKM di kawasan Gang Warung.
Mooncake Festival 2026 dibuka Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti di Klenteng Tay Kak Sie, Kamis (24/9/2026).
Dalam sambutannya, Agustina mengatakan keberagaman budaya yang berkembang di Kota Semarang merupakan bagian dari perjalanan panjang kota yang terus bergerak dari masa lalu menuju masa kini dan masa depan.
“Semarang ini tidak hanya bicara tentang sesuatu yang kuno, sesuatu yang di masa lalu. Tetapi ini adalah titik pertemuan antara masa lalu, masa kini, yang akan mendorong perahu kita maju menuju ke masa depan,” ujar Agustina.
Menurut Agustina, keberagaman budaya perlu terus dirawat melalui kebersamaan dan semangat gotong royong. Mooncake Festival yang sebelumnya dirayakan secara terpisah oleh berbagai kelompok masyarakat Tionghoa di Semarang kini menjadi momentum untuk menghadirkan perayaan bersama.
“Makanya saya ingin hari ini kita bersama-sama menjadi satu,” katanya.
Semangat kebersamaan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kawasan Pecinan sebagai ruang budaya yang terbuka bagi masyarakat luas.
Agustina menilai kawasan Pecinan tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya. Upaya tersebut dilakukan melalui penataan kawasan Gang Baru dan pengembangan Pasar Semawis.
Namun, pengembangan kawasan tetap perlu mempertahankan karakter serta kehidupan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari Pecinan.
“Kalau orang dulu melihat Pecinan sebagai kawasan yang kuno, tapi saya melihat sisi yang berbeda. Saya melihat ada keindahan, keakraban, keasyikan, dan gotong royong,” tuturnya.
Kisah Cheng Ho Dihadirkan Lewat Teknologi Imersif
Perpaduan warisan masa lalu dengan kehidupan masa kini juga ditampilkan melalui pertunjukan imersif yang mengangkat sejarah dan sosok Laksamana Cheng Ho.
Teknologi digunakan untuk menghidupkan kembali kisah sejarah sekaligus memperkenalkannya kepada generasi masa kini.
Bagi Agustina, pendekatan tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan kekayaan budaya Semarang tanpa menjadikannya sekadar peninggalan masa lalu.
Tradisi dan sejarah, menurut dia, dapat terus menjadi bagian dari kehidupan kota sekaligus dikembangkan sebagai daya tarik bagi masyarakat dan wisatawan.
Semangat kebersamaan juga terlihat dalam Jamuan Makan Tok Panjang yang digelar di Klenteng See Hoo Kiong.
Tradisi tersebut mempertemukan masyarakat, perwakilan kelenteng, serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Semarang dalam satu meja.
Agustina mengatakan meja panjang dalam tradisi tersebut bukan sekadar tempat menikmati hidangan, tetapi juga menjadi ruang untuk berbincang dan mempererat silaturahmi.
“Tok Panjang adalah tradisi jamuan yang dinikmati bersama. Hidangannya juga tidak boleh terlalu banyak, karena justru hidangan inilah yang akan membuat kita bercerita dan berbincang,” ucapnya.
Ketua Panitia Mooncake Festival 2026 sekaligus Ketua Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie, Tanto Hermawan, mengatakan festival tersebut bukan sekadar perayaan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun.
“Kue bulan yang berbentuk bulat melambangkan keutuhan dan persatuan, semangat yang kami harapkan dapat terus kami jaga dalam kerukunan, keharmonisan, dan kebersamaan,” ujar Tanto.
Ia berharap Mooncake Festival dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan mengenal budaya sekaligus mempererat persaudaraan di tengah keberagaman Kota Semarang.
Mooncake Festival atau Mid-Autumn Festival merupakan salah satu perayaan tradisional penting dalam budaya Tionghoa yang digelar setiap tahun saat bulan purnama. Perayaan tersebut jatuh pada tanggal 15 bulan kedelapan dalam kalender lunar.
Mooncake Festival 2026 terselenggara melalui gotong royong Sahabat Tionghoa Kota Semarang bersama Pemerintah Kota Semarang dan Katadata sebagai mitra penyelenggara.
Rangkaian festival mencakup berbagai kegiatan, mulai dari kirab budaya hingga Heritage Food Festival 2026 yang melibatkan 75 tenant UMKM di kawasan Gang Warung.
Masyarakat juga dapat menyaksikan berbagai pertunjukan seni dan budaya yang melibatkan komunitas dari berbagai latar belakang di Kota Semarang.
Hingga Sabtu (26/9/2026), rangkaian Mooncake Festival 2026 masih berlangsung. Secara keseluruhan, agenda festival tercatat berlangsung hingga 27 September 2026.
Melalui Mooncake Festival 2026, kawasan Pecinan Semarang tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang sejarah, tetapi juga menjadi tempat bertemunya tradisi, budaya, kreativitas, dan kehidupan masyarakat Kota Semarang masa kini.
Penulis : Oki
Editor : Zainul Arifin


















Komentar