GRESIK, RadarBangsa.co.id – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menyerap berbagai aspirasi strategis dari jajaran Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Gresik dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang dirangkai dengan Dialog Kinerja 2026. Forum ini digelar sebagai ruang refleksi, evaluasi, sekaligus penguatan sinergi lintas sektor demi keberlanjutan pendidikan dan layanan keagamaan, Minggu (8/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Batu ini dihadiri pimpinan dan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag Gresik, kepala madrasah, serta pemangku kepentingan pendidikan keagamaan. Diskusi berjalan dinamis, menghadirkan persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan anggaran, regulasi aset wakaf, hingga kesejahteraan guru madrasah.
Pelaksana Tugas Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik, Muhammad Ali Faiq, menegaskan pentingnya dialog ini sebagai bentuk kerja kolaboratif yang berkelanjutan. “Usia produktif para pengambil kebijakan harus menjadi energi perubahan untuk memperkuat sektor pendidikan dan keagamaan, yang merupakan fondasi bangsa,” ujarnya. Ali Faiq juga mengapresiasi kepemimpinan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang konsisten mendukung penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan berbasis nilai. Menurutnya, sinergi lintas level pemerintahan menjadi kunci agar program pembinaan keagamaan di Gresik berjalan optimal.
Beberapa aspirasi krusial disampaikan langsung kepada Senator Lia. Salah satunya terkait jumlah madrasah di Kabupaten Gresik yang mencapai lebih dari 800 lembaga, membutuhkan perhatian serius dari pemerintah pusat, terutama dalam hal pendanaan dan regulasi. Persoalan status tanah wakaf juga menjadi sorotan. Banyak Kantor Urusan Agama dan madrasah berdiri di atas tanah wakaf, tetapi terkendala aturan sehingga tidak dapat diusulkan dalam skema pembiayaan negara. Kemenag Gresik berharap adanya terobosan kebijakan agar tanah wakaf tetap bisa masuk dalam sistem penganggaran satuan kerja negara.
Selain itu, ketimpangan honor guru madrasah non-ASN dibandingkan pendidik di lembaga lain juga menjadi keluhan yang mengemuka. Ali Faiq menekankan, “Kesenjangan ini berdampak langsung pada kesejahteraan dan motivasi tenaga pendidik, padahal peran mereka sangat vital dalam membentuk karakter generasi bangsa.”
Menanggapi aspirasi tersebut, Lia Istifhama menyampaikan apresiasi atas keterbukaan Kemenag Gresik. Menurutnya, forum ini menjadi ruang strategis untuk memadukan kritik, solusi, dan penguatan nilai kebangsaan. “Pendidikan keagamaan bukan hanya urusan sektoral Kementerian Agama, tetapi persoalan bangsa dan negara. Nilai-nilai keagamaan menjadi fondasi akal sehat dan moral publik yang sejalan dengan semangat Empat Pilar Kebangsaan,” tegas Lia.
Senator Lia juga menekankan pentingnya kesinambungan kebijakan nasional agar program prioritas tidak terputus oleh pergantian kepemimpinan. Dalam situasi keterbatasan fiskal, negara perlu menyiapkan strategi yang adil dan bijaksana. Jika penambahan anggaran belum memungkinkan, penyesuaian kebijakan harus tetap menjaga kualitas layanan pendidikan keagamaan agar tidak tertinggal.
Melalui dialog yang terbuka dan konstruktif ini, Lia Istifhama menegaskan komitmennya untuk membawa aspirasi Kemenag Gresik ke tingkat nasional. “Saya akan memastikan semua aspirasi ini sampai ke pusat dan menjadi pertimbangan kebijakan pemerintah. Pendidikan keagamaan, kesejahteraan guru, dan regulasi wakaf bukan hanya isu lokal, tetapi tanggung jawab bersama demi masa depan generasi bangsa,” pungkas Lia.
Lainnya:
- Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal
- Menteri PKP Turun ke Bangkalan, 573 Rumah Warga Siap Dibedah Tahun Ini
- Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








