SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat layanan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus. Komitmen tersebut ditandai dengan diterimanya Piagam Penghargaan dari Hearing Aid East Java sekaligus peresmian Resource Center Unit Observasi Deteksi dan Intervensi Dini Ketunarunguan di SLB-B Negeri Karya Mulya Surabaya, Senin (5/1).
Penghargaan diserahkan Direktur Indonesia Institute and Board of Hearing Aids East Java, Vicki Richardson, kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai bentuk apresiasi atas dukungan berkelanjutan Pemprov Jatim selama 35 tahun dalam penguatan layanan deteksi dini gangguan pendengaran pada anak.
Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa apresiasi tersebut menjadi pengakuan atas konsistensi pemerintah daerah dalam memastikan pemenuhan hak dasar anak dengan disabilitas, khususnya akses layanan kesehatan dan pendidikan sejak usia dini.
“Penghargaan ini mencerminkan kerja kolaboratif yang terbangun selama lebih dari tiga dekade. Jawa Timur berkomitmen memastikan setiap anak, termasuk dengan hambatan pendengaran, memperoleh layanan sedini mungkin agar potensi tumbuh kembangnya tidak terhambat,” ujar Khofifah.
Menurutnya, deteksi dini memiliki peran strategis dalam mencegah dampak lanjutan gangguan pendengaran, seperti keterlambatan bicara, bahasa, hingga perkembangan kognitif. Layanan deteksi bahkan telah diarahkan sejak masa kehamilan hingga usia balita, sehingga intervensi medis dan edukatif dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Komitmen tersebut diperkuat melalui peresmian Resource Center Unit Observasi Deteksi dan Intervensi Dini Ketunarunguan yang terintegrasi dengan layanan kesehatan dan pendidikan. Fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor antara RSUD Dr. Soetomo, Rumah Sakit Islam Surabaya, dan SLB-B Negeri Karya Mulya.
“Resource center ini tidak hanya fokus pada deteksi dini, tetapi juga pendampingan keluarga, termasuk aspek teknis penggunaan alat bantu pendengaran, perawatan, hingga penggantian suku cadang,” kata Khofifah.
Ia menambahkan, manfaat layanan ini tidak hanya dirasakan anak penyandang disabilitas rungu, tetapi juga keluarga yang memperoleh pendampingan komprehensif untuk mengambil langkah adaptif dan antisipatif sejak awal.
Ke depan, Khofifah berharap penguatan layanan ketunarunguan di Jawa Timur terus didukung sinergi lintas sektor, termasuk peluang kerja sama internasional. Ia menyinggung pengalaman bantuan alat bantu pendengaran dan dukungan tenaga medis dari Pemerintah Australia melalui Clinton Foundation yang dinilai memberi dampak signifikan.
“Kolaborasi seperti ini penting untuk terus dikembangkan agar layanan inklusif di daerah semakin kuat dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








