SIDOARJO, RadarBangsa.co.id — Proyek perbaikan Sistem Rumah Pompa Sidokare I dan II senilai Rp2,9 miliar kembali menjadi sorotan. Saat melakukan inspeksi mendadak, Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana, SAP menemukan material besi yang disebut tidak sesuai spesifikasi.
Proyek vital pengendali banjir yang dikerjakan CV Putra Utama Perkasa itu diduga menggunakan material berukuran lebih kecil dan tipis dari ketentuan. Bahkan, besi beton untuk rumah pompa disebut Wabup Mimik diduga merupakan besi banci.
Temuan tersebut membuat Mimik geram. Terlebih, saat sidak pada Senin (28/9/2026), tidak ada satu pun penanggung jawab proyek yang berada di lokasi. Hanya empat pekerja yang disebut baru didatangkan hari itu. Mereka bahkan hanya duduk menganggur karena tidak mengetahui pekerjaan yang harus dilakukan.
“Ini kontraktornya tidak serius kerja! Tolong konsultan pengawasnya CV Guna Manfaat Teknik untuk menegur keras, dan saya minta Pak Andjar selaku Inspektorat melakukan pengawasan lebih intensif terhadap proyek di Sidokare ini,” semprot Wabup Mimik di lokasi.
Temuan di lapangan semakin kontras dengan laporan progres pekerjaan. Konsultan pengawas sebelumnya menyebut proyek mengalami surplus progres 0,8 persen. Namun, kondisi material yang ditemukan Wabup justru memunculkan persoalan lain.
Mimik menemukan besi yang didatangkan berukuran lebih kecil dan tipis dari spesifikasi. Ia juga menyoroti beton jembatan yang disebut tidak memenuhi spek.
“Saya yakin besi ini banci semua ukurannya. Belum lagi ada beton jembatan yang tidak memenuhi spek. Jadi saya minta harus dibongkar dan diganti sesuai spek!” tegas Wabup Mimik.
Konsultan pengawas mengakui material tersebut telah ditolak setelah diketahui kualitasnya. Material itu diminta untuk diganti.
“Kami begitu tahu kualitas besi langsung kita tolak dan minta diganti,” ujar konsultan pengawas.
Bagi Mimik, persoalan tersebut bukan perkara kecil. Ia menyoroti penggunaan uang rakyat yang menurutnya harus diwujudkan dalam pembangunan berkualitas.
“Dengan kenyataan ini, niat pelaksana proyek sudah jelek, yakni memainkan uang rakyat dengan penyimpangan spek. Ini uang rakyat, harus kembali ke rakyat dalam bentuk bangunan yang berkualitas, bukan bangunan yang menyengsarakan rakyat,” tandasnya.
Mimik kemudian meminta langkah tegas terhadap kontraktor yang dinilai bermain-main dengan kualitas pekerjaan. Ia bahkan meminta agar kontraktor tersebut diberi sanksi hingga blacklist.
“Saya minta kontraktor yang main-main dengan uang rakyat tidak boleh bekerja lagi di Sidoarjo. Masih banyak kok kontraktor yang berani bekerja serius. Tolong Pak Andjar, kontraktor ini dikasih cap atau kartu merah!” tegasnya.
Sorotan Mimik tidak berhenti pada proyek Rumah Pompa Sidokare. Ia menyebut berdasarkan laporannya terdapat 22 proyek di Sidoarjo pada 2026 yang pekerjaannya dinilai ngawur dan tidak sesuai spesifikasi.
“Ayo Pak Andjar. Ini proyek seperti itu harus diawasi ketat. Tolong ditindaklanjuti. Saya minta Inspektorat memanggil semua pengawas dan pemborong untuk menyelesaikan proyek sesuai spek, aturan dan jadwal yang sudah ditentukan,” pintanya.
Mimik menegaskan pembangunan yang dibiayai pajak masyarakat harus memberikan manfaat kembali kepada masyarakat. Karena itu, kualitas pekerjaan dan kesesuaian target menjadi bagian yang akan dievaluasi Pemkab Sidoarjo.
“Jangan sampai malah menyengsarakan rakyat, kita tidak mau. Semua pembangunan akan kami evaluasi menyeluruh, mulai dari kualitas hingga kesesuaian target pekerjaan. Ini penting, agar perencanaan dan pelaksanaan pembangunan ke depan bisa lebih baik dan tepat sasaran,” pungkasnya.
Penulis : Rino
Editor : Zainul Arifin


















Komentar